Senin, 17 Mei 2010

Valentine, Budaya Yang Kebablasan?

VALENTINE, BUDAYA YANG KEBABLASAN?

Bayu Bimantoro 17108333

4KA20

Jurusan Sistem Informasi

Fakultas Ilmu Komputer

1. Pendahuluan

Pengaruh globalisasi memiliki dampak besar bagi masyarakat, kebudayaan, dan nilai-nilai moral kita. Secara perlahan dan lambat-laut aktivitas-aktivitas sosial yang dulunya dianggap tidak bernilai sekarang telah diterima sebagai sebuah norma - sebuah bagian dan paket dari era modernisasi ini.

Hari Santa Valentine merupakan salah satu contohnya, yang belakangan ini telah booming mendadak dalam masyarakat kita dan sekarang diperingati dengan nuansa “keagamaan” baik generasi muda maupun yang tua. Media memiliki peranan besar dalam mempopulerkan perayaan ini dan dilain pihak telah melahirkan sebuah bisnis empuk untuk menjual pernak-pernik Valentine seperti bunga, coklat, hadiah dan lain-lain. Masyarakat kita terlihat mengikut begitu saja dan menerima kebudayaan global yang pada kenyataannya merongrong akar agama, keyakinan, dan nilai-nilai moral kita.

Kebanyakan orang tidak ambil pusing dan tidak merasa ragu dalam merayakan perayaan ini karena disebut sebagai hari “kasih sayang”. Kelihatannya ada pola pikir umum bahwa walaupun ini merupakan perayaan Kristiani, tidak ada salahnya merayakannya, karena tujuan kita bukan untuk mengikuti Kristiani, tetapi hanya untuk menebarkan cinta dan menunjukkan perasaan kita kepada orang yang kita cintai. Pola pikir seperti ini sebetulnya tidak memperhatikan kata “St.” dari St. Valentine, sehingga juga melupakan bahwa ini merupakan perayaan Kristiani. Meskipun anda mencoba untuk meyakinkan diri anda bahwa tidak ada salahnya merayakan perayaan ini tetapi sebetulnya anda tahu hakikat apa yang anda lakukan.

Jadi mari kita mengnalisis perayaan ini, memahami asal-usul perkembangannya dan pengaruhnya terhadap masyarakat kita serta bagaimana kita menyikapi hari ini sebagai masyarakat Indonesia yang menganut budaya ketimuran dan mengapa.

2. Sejarah Valentine

Asal-Usul Hari St. Valentine

Sejarah kristiani menyebutkan banyak asal-usul berbeda untuk hari Valentine ini, yang dikaitkan dengan santa-santa (saint) berbeda berdasarkan nama Valentine. Jadi asal-usul Kristiani dari hari ini juga dilingkupi oleh misteri. Perayaan ini bukan benar-benar merupakan perayaan Kristiani, karena dari sejarah diketahui bahwa pada kebudayaan paganisme (penyembahan batu dan berhala) Romawi dan Yunani, bulan Februari selalu dianggap sebagai bulan percintaan, bulan kesuburan dan bulan keturunan, dan sejarah membuktikan bahwa hari St. Valentine bersumber dari dua perayaan Romawi yanng paling cabul dan melibatkan kegilaan seksual yakni Lupercalia dan Perayaan Juno Februata, yang keduanya dirayakan pada tanggal 15 Februari.

Lupercalia

Festival ini dirayakan pada tanggal 15 Februari yang diadakan dengan tujuan untuk merayakan kesuburan atas nama dewa Romawi Lupercus yang juga disebut Faunus, sebuah perwujudan dari kesuburan, seksualitas, dan nafsu birahi. Dewa ini dilukiskan berkepala dan berbadan manusia tetapi sepotong badannya adalah kambing dan bertanduk.

Upacara dimulai dengan penyembelihan seekor kambing dan seekor anjing. Para pemuda dilumuri dengan darah hewan ini. Mereka dipakaikan kulit kambing (untuk meniru Lupercus) dan potongan-potongan kecil kulit kambling yang dopotong memanjang, yang disebut sebagai Februa. Mereka kemudian berlari keliling sambil menyerang wanita yang datang ke dekat mereka dengan Februa ini. Ini dianggap menganugerahi kesuburan bagi wanita tersebut.

Perayaan Juno Februata

Perayaan dewi Juno Februata dirayakan setelah upacara Lupercalia. Juno Februa adalah dewi cinta, pernikahan, dan wanita Romawi. Untuk perayaan ini, para wanita menuliskan nama mereka di kertas dan para lelaki akan menarik salah satu dari kertas terseut. Wanita yang namanya tertulis di kertas yang ditarik akan menjadi pasangannya untuk pesta seks pada hari itu.

Kristianisasi Lupercalia dan Juno Februata

Kristianitas sangat dipengaruhi oleh filosopi paganisme Romawi selama pemerintahan Kaisar Romawi Constantine I (288 - 337 S.M) yang menerima kristianitas tetapi perayaan paganisme terus berlangsung dibawah pemerintahannya dan filosofi paganisme juga terintegasi ke dalam kristianitas.

Pada tahun 494 S.M, Paus Gelasius I memutuskan untuk menekan perayaan paganisme. Dia menggantikan Lupercalia dengan Perayaan Purification of Virgin Mary, yang dirayakan sampai sekarang pada tanggal 15 Februari oleh Gereja-Gereja Katolik Ritus Timur.

Juga dikatakan bahwa dia menggantikan Perayaan Juno Februata dengan Hari St. Valentine dan memindahkan hari perayaannya ke tanggal 14 Februari. Perayaan ini tidak lagi melibatkan undian nama seperti sebelumnya tetapi digantikan dengan nama santa Kristian, dimana para pemuda harus mengikuti hari tersebut. Berbagai cerita dan legenda pun muncul, yang dikaitkan dengan banyak orang berdasarkan nama Valentine, untuk memberikan kredibilitas bagi Hari Santa Valentine. Munculnya tokoh-tokoh yang tidak jelas dalam legenda-legenda tersebut labih jauh membuktikan bahwa ini semata-mata merupakan upaya untuk menutupi perayaan paganisme dengan label Kristianitas karena kebudayaan tersebut tidak bisa dihilangkan dari masyarakatnya.

Simbol-Simbol Paganisme

Santa Valentine atau bukan, yang jelas perayaan ini telah kembali ke akar asal-usulnya. Cupid (simbol kasih sayang dalam bentuk seorang bocah telanjang dengan sayap dan busur serta panah), sebuah simbol kasih sayang yang umum digunakan, pada dasarnya merupakan dewa cinta erotik Romawi yang masih muda, yang berasal dari bahasa Latin Cupere - berarti hasrat.

Dewa-dewa dan dewi-dewi Romawi sebetulnya berasal dari Filosofi Yunani dan bandingan Cupid pada masyarakat Yunani adalah Eros - dewa cinta, seks, dan birahi yang utama.

3. Dampak Negatif Valentine

Berikut dampak negatif valentine yang dirangkum dari beberapa artikel:

Masyarakat Indonesia, terutama kalangan remajanya, telah kebablasan dalam memaknai dan merayakan Valentine Day tersebut . Hari yang diperingati setiap 14 Februari itu telah dimaknai sebagai hari untuk berpesta dan berbuat hal yang tidak bermanfaat. Selama ini, sering terjadi pemaknaan dan penyikapan yang menyimpang oleh kalangan pemuda dan remaja. Tujuan untuk menciptakan berbagi dan ungkapan kasih-sayang di persada bumi ini adalah baik, tetapi tak harus menunggu datangnya Valentine Day, tak harus pula diisi dengan hal-hal negatif yang melanggar norma masyarakat dan agama.

Di antara dampak yang sangat terasa dari mulai lunturnya nilai-nilai sosial yang menjadi dasar masyarakat kita saat ini adalah sikap apatis dan individualistis yang mulai menjangkiti jiwa-jiwa masyarakat Indonesia. Hal ini juga mempengaruhi tatanan hidup bermasyarakat yang telah ada. Sehingga dengan demikian perilaku kehidupan masyarakat sehari-hari pun telah berubah. Kini relatif sudah tak ada lagi jam malam orang bertamu. Masyarakat kian bebas dalam berperilaku. Mulai dari pegang-pegangan tangan hingga berpelukan di tempat umum, sudah dianggap biasa. Pacaran juga menjadi hal yang ‘wajib’ di kalangan anak muda. Kaum muda yang tidak berpacaran dianggap kuno.


Tidak hanya itu, kini media massa juga sangat berpengaruh dalam pola perilaku masyarakat. Media menanamkan budaya baru, yang membuat luntur pola kehidupan yang telah ada. Budaya-budaya yang masuk tanpa ada filter di depan, membuat semua terkafer dalam perilaku masyarakat. Sehingga ia telah membuat pergeseran-pergeseran dalam memaknai sesuatu. Termasuk makna Valentine’s Day yang identik dengan kasih sayang.


Hura-hura dan pesta pora kini tampaknya telah menjadi bagian gaya hidup kaum muda di negeri ini. Tengok saja apa yang dilakukan kaum muda kalau memiliki hajatan.
Mulai dari ulang tahun, kelulusan, pernikahan, hingga perayaan hari-hari spesial seperti Valentine’s Day. Menggelar pesta pora dengan acara yang tidak sesuai dengan norma ketimuran, itulah yang sekarang sering kita temui. Norma ketimuran yang menjunjung tinggi norma susila dan norma sosial terdegradasi oleh budaya asing yang masuk tanpa filter. Budaya asing kini menjadi ancaman serius terhadap nilai-nilai luhur yang telah ditanamkan nenek moyang sejak dulu.

Kesalahpahaman sebagian masyarakat kita adalah membayangkan perayaan Valentine identik dengan pesta mabuk-mabukan dan seks bebas. Padahal secara umum tidak demikian faktanya. Kebanyakan remaja Indonesia merayakan Valentine dengan tukar kado, makan coklat, beri bunga, makan malam. Dan tidak hanya antar pasangan kekasih saja, sebagian orang mengungkapkan hari kasih sayang ini kepada orang tua, anak, saudara, sahabat, handai taulan, dll.

4. Kesimpulan

Dari rangkuman artikel dampak negatif dari perayaan valentine dapat kita ketahui bahwah masih banyaknya masyarakat Indonesia yang salah memaknai dan merayakan hari valentine, terutama kalangan remaja. Sebagian dari mereka beranggapan bahwa perayaan hari valentine itu identik dengan pesta mabuk-mabukan dan seks bebas. Tentu saja pesta mabuk-mabukan dan seks bebas sangat bertentangan dengan budaya Indonesia. Tetapi yang patut dipertanyakan mengapa sampai banyak dari remaja Indonesia yang salah mengartikan makna dan perayaan valentine. Mungkin banyak dari para remaja itu yang tidak pernah diberikan sosialisasi tentang apa itu hari valentine. Mereka hanya tau apa itu hari velentine dari media massa atau dari teman yang sebenarnya dia sendiri tidak paham tentang makna dan perayaan hari valentine. Jadi peran pemerintah, sekolah, dan terutama orang tua perlu melakukan sosialisasi terhadap para remaja atau anaknya agar mereka tidak salah dalam mengartikan makna dan perayaan valentine.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar