Rabu, 18 April 2012

Partisipasi Publik Dalam Pemberantasan Korupsi Melalui Sosial Media

Banyak diantara kita yang beranggapan bahwa pemberantasan korupsi semata-mata hanya tanggungjawab KPK atau pemerintah. Padahal, kita ketahui bersama, KPK memiliki keterbatasan baik SDM, anggaran dan jaringan dalam upaya pemberantasan korupsi. Institusi utama pemberantasan korupsi tetap berada di Kejaksaan dan Polri yang punya anggaran puluhan kali lipat dibandingkan KPK. Demikian juga dengan jumlah penyidik, KPK hanya punya 200 penyidik. Kejaksaan punya 17.000 dan Polri punya ratusan ribu penyidik. KPK juga saat ini sedang lumpuh. Sakit parah. Internalnya diobok-obok dan anggotanya ada yang berkhianat. Banyak tangan-tangan jahat bermain di KPK. KPK dengan anggaran yang hanya 500 Milyar dan kondisinya saat ini, jelas tak mampu berbuat banyak berantas korupsi yang semakin menggila dimana-mana. KPK saat ini juga overload. Puluhan ribu laporan kasus korupsi menumpuk. Tidak bisa diproses karena keterbatasan SDM dan anggaran.

Jika rakyat tahu dan sadar betapa banyaknya kasus besar yang sampai saat ini masih menumpuk di Polri, Kejaksaan& KPK, pasti rakyat akan stress. Sementara itu Kejaksaan dan Polri juga jauh panggang dari api, alias tak bisa diharapkan. Institusi mereka kotor penuh lumpur. Kasus suap Miranda yang seperti odong-odong itu saja adalah kasus 6 tahun yang belum juga jelas kemana arah penyelesaiannya. Apalagi kasus rekening gendut polisi. Kasus besar lain seperti kasus century, kasus IT KPU, kasus recovery migas, dll, juga tidak akan jelas penyelesaiannya. Jadi jangan pernah berharap banyak KPK bisa selesaikan kasus-kasus baru. Kasus lama saja masih antri panjang..bertahun-tahun baru disentuh.

SBY sebagai kepala negara dan presiden juga tidak bisa kita harapkan. Dia yang dulu bicara berdiri dibarisan terdepan dan acungkan pedang, teryata dusta. SBY yang sebenarnya sebagai orang yang paling berkuasa, paling berwenang dan punya kemampuan untuk berantas korupsi ternyata presiden yang sangat lebay. SBY yang punya kendali terhadap Kejaksaan dan Polri seharusnya bisa mendorong kedua instansi itu untuk berantas korupsi. Tapi SBY malah sebaliknya. SBY saat ini menjadi sosok penghalang utama dan beban terberat dalam upaya pemberantasan korupsi. SBY penyebab utama kegagalan pemberantas korupsi. Kasus-kasus korupsi besar saat ini tak telepas dari peran sekeliling SBY. Mereka jadi bagian terbesar mafia korupsi di negara ini. Singkatnya : negara gagal total dalam upaya pemberantasan korupsi. Faktor utamanya adalah kepemimpinan SBY yang lemah, lamban dan penakut. Media massa juga tidak bisa diharapkan terlalu banyak. Masing-masing media massa punya politik dan kebijakan sendiri. Ada kepentingan bisnis dll. Jadi salah satu pilihan pemberantasan korupsi dari sedikit pilihan yang tersisa adalah melalui sosial media seperti twitter dan facebook.

Sosial media ini tidak bisa disepelekan atau dipandang sebelah mata. Informasi-informasi terkait korupsi dan sejenisnya terbukti cukup efektif melawan korupsi. Ambil contoh kasus terbaru.. Ketika beberapa waktu lalu ada kultwit kasus korupsi adik kandung Menko Hatta Rajasa, malam itu juga info sampai. Semua pihak yang terkait langsung gemetar ketakutan dan menteri terkait langsung ngamuk-ngamuk marahi adik dan stafnya..suap dikembalikan. KPK juga langsung bereaksi dan mulai pantau pelaksanaan tender proyek 2 Triliun di Kementan. Intinya : keadaan berobah jd lebih baik. Demikian juga halnya dengan kasus-kasus korupsi yang pernah ditwitkan di twitland..ada usaha penyelamatan, tiarap, atau proses penyelidikan pada kasusnya. Kita tidak bisa dan tidak boleh abaikan pengaruh twitter atau fesbook. Di timur tengah sudah terbukti mampu gulingkan rezim korup dan zhalim. Sosial media dapat jadi pesan atau informasi berantai yang masuk menerobos ruang kerja sampai ruang tidur. Terbukti efektif.

Efektifitas sosial media ini mencukup banyak bidang..politik, sosial sampai bisnis. Itu sebabnya nilai ekomoni pengelola sosial media luar biasa besar. Upaya penegakan hukum hanya bisa berhasil jika semua pihak tak henti terus teriakan kritik terhadap rezim SBY yang penuh kebusukan dan kemunafikan ini. Karena sesungguhnya melalui sosial media kita terhubung satu sama lain. Dimana pun berada dan kapan saja. Ini sebuah kekuatan yg luar biasa besar. Kekuatan yang luar biasa besar ini harus kita manfaatkan sebesar-besarnya untuk kemaslahatan rakyat, bangsa dan negara. Sayang jika tidak kita manfaatkan. Sekarang ini pejabat-pejabat tinggi kita juga mengawasi dan perhatikan lini massa di twitter atau di FB. Demikian juga seluruh komponen bangsa yang lain. Saya yakin, jika secara terus menerus kita mendesak SBY & para pemimpin kita untuk kembali ke jalan yg benar, hati nurani mereka akan terusik. Demikian juga hati para penegak-penegak hukum kita. Setidaknya mereka merasa malu untuk terus turut serta atau terlibat dalam praktek korupsi. Jika mereka tetap merasa tak terusik, tak malu dan tetap mandi di kubangan lumpur tersebut, kita terus teriakan di sosial media sampai mereka masuk penjara. Yang jelas, apapun yang kita lakukan, sekecil apapun kontribusi kita dalam upaya pemberantasan korupsi, insya Allah akan jadi amal ibadah kita. Tak ada kebaikan yang percuma. Tak perjuangan yang tak berhasil. Setidaknya di mata Tuhan. Amiin.

Sumber : TrioMacan2000 dengan sedikit editing.

Universitas Gunadarma


1 komentar: