Senin, 16 April 2012

Pesan Dalam Botol

Negara yang sudah tidak mempedulikan nasib rakyatnya. Kira-kira seperti itulah maksud pesan yang ingin disampaikan dalam botol tersebut. Banyaknya kebijakan pemerintah yang hanya menguntung para pemilik modal membuat rakyat kecil semakin menderita. Kegagalan pemerintah dalam mengelola sumber energi berdampak langsung pada rakyat. Bayangkan saja ditengah himpitan ekomomi masyarakat dipaksa beralih dari minyak tanah ke tabung elpiji. Walaupun pemerintah memberikan kompor gratis kepada masyarakat yang kurang mampu, tetap saja masyarakat yang kurang mampu merasa keberatan untuk membeli sebuah tabung gas 3 kg seharga lebih dari sepuluh ribu. Kebijakan konversi minyak tanah ke gas memang dirasa kurang populis oleh masyarakat. Tetapi pemerintah beralasan program konversi itu untuk menghemat subsidi BBM yang terus membengkak akibat terus melambungnya harga minyak dunia. Indonesia memang memproduksi minyak mentah, tetapi ketidakmampuan mengelola minyak mentah membuat Indonesia tersandera harga minyak internasional. Hal itulah yang membuat pemerintah kewalahan dalam mensubsidi BBM untuk kebutuhan rakyatnya. Akibatnya lagi-lagi rakyatlah yang dikorbankan

Selain kasus konversi gas, kebijakan pemerintah dalam alih fungsi lahan juga sering merugikan rakyat kecil. Banyaknya kasus sengketa agraria menandakan betapa buruknya pendataan tanah yang dilakukan pemerintah. Rakyat sering dikorbankan ketika para pemilik modal hendak mendirikan pabriknya di lahan-lahan pertanian. Banyak rakyat yang sudah menuntut keadalian, tetapi tidak pekanya pemerintah terhadap rakyat membuat jeritan rakyat tidak terdengar. Persis seperti gambar diatas, rakyat seperti berteriak menuntut keadilan tetapi dari dalam botol, sehingga apa yang diteriakinya tidak akan terdengar.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar